Perkembangan Mekanika
A. Mekanika Klasik
Mekanika klasik adalah bagian dari ilmu fisika mengenai gaya yang bekerja pada benda. Sering dinamakan "mekanika Newton" dari Newton dan hukum gerak Newton. Mekanika klasik dibagi menjadi sub bagian lagi, yaitu statika (mempelajari benda diam), kinematika (mempelajari benda bergerak), dan dinamika (mempelajari benda yang terpengaruh gaya). Lihat juga mekanika.
Mekanika klasik menggambarkan dinamika partikel atau sistem partikel.
Dinamika partikel demikian, ditunjukkan oleh hukum-hukum Newton tentang
gerak, terutama oleh hukum kedua Newton. Hukum ini menyatakan, "Sebuah
benda yang memperoleh pengaruh gaya atau interaksi akan bergerak
sedemikian rupa sehingga laju perubahan waktu dari momentum sama dengan
gaya tersebut".
Hukum-hukum gerak Newton baru memiliki arti fisis, jika hukum-hukum
tersebut diacukan terhadap suatu kerangka acuan tertentu, yakni kerangka
acuan inersia (suatu kerangka acuan yang bergerak serba sama - tak
mengalami percepatan). Prinsip Relativitas Newtonian menyatakan, "Jika
hukum-hukum Newton berlaku dalam suatu kerangka acuan maka hukum-hukum
tersebut juga berlaku dalam kerangka acuan lain yang bergerak serba sama
relatif terhadap kerangka acuan pertama".
Konsep partikel bebas diperkenalkan ketika suatu partikel bebas dari
pengaruh gaya atau interaksi dari luar sistem fisis yang ditinjau
(idealisasi fakta fisis yang sebenarnya). Gerak partikel terhadap suatu
kerangka acuan inersia tak gayut (independen) posisi titik asal sistem
koordinat dan tak gayut arah gerak sistem koordinat tersebut dalam
ruang. Dikatakan, dalam kerangka acuan inersia, ruang bersifat homogen
dan isotropik. Jika partikel bebas bergerak dengan kecepatan konstan
dalam suatu sistem koordinat selama interval waktu tertentu tidak
mengalami perubahan kecepatan, konsekuensinya adalah waktu bersifat
homogen.
Prinsip Hamilton
Analisis gerakan proyektil merupakan salah satu bagian dari mekanika klasik.
Jika ditinjau gerak partikel yang terkendala pada suatu permukaan
bidang, maka diperlukan adanya gaya tertentu yakni gaya konstrain yang
berperan mempertahankan kontak antara partikel dengan permukaan bidang.
Namun sayang, tak selamanya gaya konstrain yang beraksi terhadap
partikel dapat diketahui. Pendekatan Newtonian memerlukan informasi gaya
total yang beraksi pada partikel. Gaya total ini merupakan keseluruhan
gaya yang beraksi pada partikel, termasuk juga gaya konstrain. Oleh
karena itu, jika dalam kondisi khusus terdapat gaya yang tak dapat
diketahui, maka pendekatan Newtonian tak berlaku. Sehingga diperlukan
pendekatan baru dengan meninjau kuantitas fisis lain yang merupakan
karakteristik partikel, misal energi totalnya. Pendekatan ini dilakukan
dengan menggunakan prinsip Hamilton, dimana persamaan Lagrange yakni
persamaan umum dinamika partikel dapat diturunkan dari prinsip tersebut.
Prinsip Hamilton mengatakan, "Dari seluruh lintasan yang mungkin bagi
sistem dinamis untuk berpindah dari satu titik ke titik lain dalam
interval waktu spesifik (konsisten dengan sembarang konstrain), lintasan
nyata yang diikuti sistem dinamis adalah lintasan yang meminimumkan
integral waktu selisih antara energi kinetik dengan energi potensial.".
[sunting] Persamaan Lagrange
Persamaan gerak partikel yang dinyatakan oleh persamaan Lagrange
dapat diperoleh dengan meninjau energi kinetik dan energi potensial
partikel tanpa perlu meninjau gaya yang beraksi pada partikel. Energi
kinetik partikel dalam koordinat kartesian adalah fungsi dari kecepatan,
energi potensial partikel yang bergerak dalam medan gaya konservatif
adalah fungsi dari posisi.
Jika didefinisikan Lagrangian sebagai selisih antara energi kinetik
dan energi potensial. Dari prinsip Hamilton, dengan mensyaratkan kondisi
nilai stasioner maka dapat diturunkan persamaan Lagrange. Persamaan
Lagrange merupakan persamaan gerak partikel sebagai fungsi dari
koordinat umum, kecepatan umum, dan mungkin waktu. Kegayutan Lagrangian
terhadap waktu merupakan konsekuensi dari kegayutan konstrain terhadap
waktu atau dikarenakan persamaan transformasi yang menghubungkan
koordinat kartesian dan koordinat umum mengandung fungsi waktu. Pada
dasarnya, persamaan Lagrange ekivalen dengan persamaan gerak Newton,
jika koordinat yang digunakan adalah koordinat kartesian.
Mengapa perlu formulasi Lagrangian?
Dalam mekanika Newtonian, konsep gaya diperlukan sebagai kuantitas
fisis yang berperan dalam aksi terhadap partikel. Dalam dinamika
Lagrangian, kuantitas fisis yang ditinjau adalah energi kinetik dan
energi potensial partikel. Keuntungannya, karena energi adalah besaran
skalar, maka energi bersifat invarian terhadap transformasi koordinat.
Dalam kondisi tertentu, tidaklah mungkin atau sulit menyatakan
seluruh gaya yang beraksi terhadap partikel, maka pendekatan Newtonian
menjadi rumit pula atau bahkan tak mungkin dilakukan. Oleh karena itu,
pada perkembangan berikutnya dari mekanika, prinsip Hamilton berperan
penting karena ia hanya meninjau energi partikel saja .
Mekanika Klasik dan Fisika Modern
Meskipun mekanika klasik hampir cocok dengan teori "klasik" lainnya seperti elektrodinamika dan termodinamika
klasik, ada beberapa ketidaksamaan ditemukan di akhir abad 19 yang
hanya bisa diselesaikan dengan fisika modern. Khususnya, elektrodinamika
klasik tanpa relativitas memperkirakan bahwa kecepatan cahaya adalah relatif konstan dengan Luminiferous earter, perkiraan yang sulit diselesaikan dengan mekanik klasik dan yang menuju kepada pengembangan relatifitas khusus. Ketika digabungkan dengan termodinamika klasik, mekanika klasik menuju ke paradog Gibes yang menjelaskan entropi bukan kuantitas yang jelas dan ke penghancuran ultraviolet yang memperkirakan benda hitam mengeluarkan energi yang sangat besar. Usaha untuk menyelesaikan permasalahan ini menuju ke pengembangan mekanika kuantum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar